METODE PENELITIAN SEKUNDER
(ANALISIS DATA SEKUNDER)
1. PENGERTIAN
METODE PENELITIAN (ANALISIS DATA) SEKUNDER
Metode Analisis
Data Sekunder (kadang disebut singkat dengan Metode Penelitian Sekunder)
merupakan salah satu metode penelitian. Oleh karena namanya yang berbunyi
“analisis data sekunder” sering kali disalahpahami sebagai teknik menganalisis
data sekunder. Analisis Data Sekunder itu metode penelitian juga. Artinya ada
prosedur pengumpulan data dan analisis data. Namun demikian tidak semua
definisi tentang Analisis Data Sekunder menunjukkannya sebagai duatu metodem
penelitian. Hakim (1982:1; dinukil Johnston, 2014:620), misalnya, merumuskan
Analisis Data Sekunder itu sebagai ““any further analysis of an existing
dataset which presents interpretations, conclusions or knowledge additional to,
or different from, those presented in the first report on the inquiry as a
whole and its main results” (analisis lebih lanjut himpunan data yang sudah ada
yang memunculkan tafsiran, simpulan atau pengetahuan sebagai tambahan terhadap,
atau yang berbeda dari, apa yang telah disajikan dalam keseluruhan dan temuan
utama penelitian terdahulu atau semula).
Heaton
(2004:16; dinukil Andrews, et.al., 2012:12) merumuskan analisis data sekunder
(ASD) itu sebagai “a research strategy which makes use of pre-existing
quantitative data or pre-existing qualitative data for the purposes of
investigating new questions or verifying previous studies.” Jadi, analisis
data sekunder, menurut Heaton, merupakan suatu strategi penelitian yang
memanfaatkan data kuantiatif ataupun kualitatif yang sudah ada untuk menemukan
permasalahan baru atau menguji hasil penelitian terdahulu. Sebutan strategi
penelitian itu setara dengan sebutan metode penelitian. Johnston (2014:620)
menegaskannya dengen menyatakan bahwa “Secondary data analysis remains an
under-used research technique in many fields . . . . Given the increasingly
availability of previously collected data to researchers, it is important to
further define secondary data analysis as a systematic research method.”
(Analisis data sekunder itu masih tetap sebagai teknik penelitian yang
jarang digunakandiberbagai bidang . . . . Dengan semakin banyaknya data hasil penelitian
yang tersedia untuk dimanfaatkan para peneliti, maka sangat penting untuk
kemudian menegaskan analisis data sekunder itu sebagai metode penelitian yang
sistematik)
Analisis data
sekunder itu dengan demikian dapat dirumuskan sebagai berikut.
Pertama, ASD bukan merupakan metode
analisis data, melainkan metode (strategi) penelitian. Oleh karenanya, menurut
Andrews dkk (2012), metode analisis data semisal teori grounded (analisis data
kualtiatif) dan analisis stastisik (analisis data kuantitatif) dapat dipergunakan
oleh metode penelitian analisis data sekunder.
Kedua, ASD
mempergunakan atau memanfaatkan data sekunder, yaitu data yang sudah ada. Dalam
hal ini peneliti ASD tidak mengumpukan data sendiri, baik dengan
wawancara, penyebaran angket atau daftar isian, melakukan tes, menggunakan
skala penilaian atau skala semacam skala likert, ataupun observasi. Data
sekunder itu dapat berupa data hasil penelitian, dapt pula berupa data
dokumenter administratif kelembagaan.
Ketiga, tujuan
ASD, menurut Heaton, bisa berupa menggali dan menemukan permasalahan
(pertanyaan) penelitian baru, bisa pula menguji kebenaran hasil penelitian
terdahulu.
Tujuan
penelitian ASD sebenarnya bisa beragam. Andrews dkk, misalnya, mencatat rumusan
tujuan penelitian ASD itu antara lain untuk: (1) menerapkan permasalahan
penelitian baru–tegasnya meneliti dengan tujuan penelitian yang baru yang
berbeda dari penelitian terdahulu (Heaton, 2004), (2) memanfaatkan data lama
untuk memunculkan idea-idea baru (Fielding, 2004), (3) “menguji” hasil penelitian
yang sudah dilakukan, baik berujud “verifikasi” (menguji ketidakbenaran dengan
bukti yang benar),”refutasi” (menguji kebenaran dengan bukti ketidakbenaran)
ataupun “refinemen” (perbaikan), (4) “mengksplor” data dari sudut pandang yang
berbeda (Hinds,Vogel & Clarke-Steffen, 1997)–“mengksplor” data dimaksudkan
“mengobok-obok” data (dalam arti netral) atau menjelajahi, menyelami,
mengayak-menyaring data.
Tujuan-tujuan
penelitian ASD di atas lebih banyak terkait dengan data sekunder hasil
penelitian. Seperti telah disebutkan, selain data hasil penelitian masih ada
data sekunder lain yang dapat disebut sebagai data administratif yang hasilnya
lebih banyak berupa laporan administratif. Data administratif tidak selamanya
hanya berupa laporan administratif, melainkan bisa pula mengandung “nilai
penelitian” walau lebih bersifat administratif, utamanya “penelitian evaluatif
administratif.”
Dari pembahasan di atas, maka jika
ASD mempergunakan atau memanfaatkan data hasil penelitian terdahulu, maka
tujuan ASD berbeda (harus berbeda) dari tujuan penelitian terdahulu. Tegasnya,
dengan tujuan lain, peneliti ASD menggunakan data hasil penelitian terdahulu
(baik hasil penelitian sendiri ataupun penelitian orang lain) untuk dianalisis
guna menjawab fokus penelitian atau permasalahan (pertanyaan) penelitiannya.
Ini perlu ditegaskan, karena pada umumnya penelitian ASD yang mempergunakan
atau menafaatkan data administratif kelembagaan sudah dapat dipastikan
tujuannya berbeda dari maksud atau tujuan data adminitratif dikumpulkan.
Data administratif dikumpulkan lazimnya untuk keperluan administratif, bukan
untuk keperluan penelitian.
2. PENGERTIAN DAN
JENIS DATA SEKUNDER
Seperti telah
diutarakan di muka, data sekunder itu dimaksudkan data yang sudah ada, tidak
dikumpulkan (digali) sendiri oleh peneliti. Jika peneliti melakukan wawancara,
atau menyebarkan angket, atau melakukan observasi, atau mengetes, maka data
yang dihasilkan (terkumpul) itu disebut data primer, data tangan pertama
(tangan peneliti). Data sekunder tidak dikumpulkan sendiri oleh peneliti. Data
itu sudah dikumpulkan oleh orang lain, atau sudah didokumentasikan dan atau
dipublikasikan oleh orang lain.
Data sekunder itu dapat dibedakan
menjadi dua macam. Pertama data hasil penelitian (orang lain), dan kedua, data
administratif kelembagaan. Data penelitian merupakan data yang dihasilkan oleh
sesuatu penelitian, bisa penelitian orang lain, bisa penelitian sendiri. Data
administratif kelembagaan dimaksudkan data yang dikumpulkan oleh sesuatu
lembaga, misalnya sekolah atau Dinas Pendidikan, yang berupa data-data
administratif semisal daftar calon murid yang mendaftar dan diterima sekolah,
data lengkap murid baru, data kelulusan, data nilai hasil ujian, data
kepegawaian dan sebagainya.
Data sekunder, seperti juga data primer,
bisa bersifat “kuantitatif” (berupa bilangan), misalnya statistik murid, guru
dan pegawai, bisa pula “kualitatif” (bukan berupa bilangan), misalnya
peraturan, hasil wawancara penelitian, rekaman video, berita surat kabar,
artikel majalah, dan sebagainya.
3. PROSEDUR
PENELITIAN (ANALISIS DATA) SEKUNDER
Seperti telah
disebutkan, data sekunder itu data yang sudah ada (dengan istilah umum disebut
berupa “dokumen”). Dengan kata lain peneliti tidak mengumpulkan data itu
seperti dalam penelitian primer menggunakan teknik pengumpulan data tertentu
(angket, wawancara, observasi, tes dsb). Oleh karena itu maka langkah
penelitian analisis data sekunder itu relatif “pendek.” M. Katherine McCaston
(2005) menyatakan bawha analisis data sekunder itu mencakup dua proses pokok,
yaitu mengumpulkan data dan menganalisisnya. Dalam kaoimat aslinya disebut
“collecting and analyzing a vast array of information” (mengumpulkan dan
mengalisis sekian banyak informasi). Namun demikian, menurut McCaston, agar
tidak menyimpang, yang perlu dilakukan oleh peneliti sebagai langkah awal
adalah merumuskan tujuan penelitian dan disain penelitian.
Rumusan tujuan
penelitian dimaksudkan McCaston sebagai “a clear understanding of why you are
collecting the data and of what kind of data you want to collect, analyze, and
better understand” (penegasan mengenai mengapa perlu mengumpulkan data serta
penegasan mengenai data macam apa yang ingin dihimpun, dianalisis dan dipahami
dengan baik).
Disain
(rancangan) penelitian dimaksudkan McCaston sebagai “a step-by-step plan that
guides data collection and analysis. In the case of secondary data reviews it
might simply be an outline of what you want the final report to look like, a
list of the types of data that you need to collect, and a preliminary list of
data sources” (langkah demi langkah rencana yang mengarahkan pengumpulan dan
analisis data; dalam penelitian analisis data sekunder sederhananya merupakan
kerangka kerja garis besar mengenai hasil akhir seperti apa yang di=ingin
dilaporkan, daftar data yang dirasa perlu dikumpulkan, dan daftar sementara
sumber data).
Wallace
Foundation (Workbook B; Secondary Data Analysis–www.wallacefoundation.org,
diunduh Januari 2015) merumuskan langkah-l;angkah penelitian analisis data
sekunde itu sebagai berikut.
Jadi, dalam
penelitian sekunder (analisis data sekunder) langkah penelitiannya sebagai
berikut:
·
Menetapkan
(mencari-temukan) sumber data/informasi (sekolah, universitas, Dinas
Pendidikan, dsb);
·
Mengumpulkan
data yang sudah tersedia (dalam “dokumen”);
·
Menormalisasikan
data jika diperlukan dan memungkinkan (membuat data dari berbagai sumber
sesetara mungkin “menjadi satu bentuk yang sama”);
·
Menganalisis
data (misalnya menghitung, mentabulasi, memetakan data-data kuantiatif, atau
membandingkan berbagai peraturan dan menelaahnya).
4. PENDEKATAN
PENELITIAN (ANALISIS DATA) SEKUNDER
Melakukan
penelitian analisis data sekunder dapat dilakukan dengan dua pendekatan (Sarah
Boslaugh, 2007:6-8). Pertama, dimulai dengan pertanyaan penelitian (rumusan
masalah) kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan data sekunder yang relevan.
Misalnya, dari kalangan latar belakang ekonomi apakah peserta didik yang diterima
di sekolah-sekolah favorit di Kota Yogyakarta. Data kemudian dihimpun dicari
dari sekolah-sekolah favorit atau dari Dinas Pendidikan untuk selanjutnya
dianalisis menggunakan analisis matematik (tidak harus disebut analisis
statistik karena pada dasarnya hanya menghitung-menjumlah). Jika ada hasil
penelitian yang mengkorelasikan nilai ujian nasional (NUN) saat masuk SMA (NUN
SMP) dengan nilai ujian nasional (NUN) SMA-nya, hasil penelitian tersebut dapat
“dipertanyakan” lebih lanjut, misalnya “lebih banyak yang prestasi UN SMA-nya
naik atau turun berbanding NUN SMP-nya” dan “apakah ada perbedaan keberhasilan
belajar murid sekolah favorit dan tidak favorit.” Data NUN yang dikumpulkan
peneliti tersebut itu kemudian dianalisis untuk menjawab “pertanyaan penelitian”
tadi.
Pendekatan yang
kedua, dimulai dengan mengumpulkan data sekunder, lalu menelaahnya untuk
mencermati variabel-variabel (aspek-aspek) apa saja yang ada dalam data
tersebut untuk kemudian dimunculkan pertanyaan penelitian (rumusan masalahnya)
dengan menghubung-hubungkan berbagai aspek (variabel) tersebut. Lebih
“ekstrimnya” lagi, peneliti cukup memunculkan pertanyaan (masalah) yang relatif
umum, misalnya seperti apa gambaran (potret) murid baru yang diterima di
sekolah-sekolah favorit di Kota Yogyakarta. Selanjutnya peneliti mengumpulkan
data sekunder (dokumenter) sebanyak-banyaknya dan menganalisis berbagai
variabel (aspek) yang ada dalam data tersebut. Jika kemudian muncul
“pertanyaan” (kepenasaranan, keingintahuan) lebih lanjut, data yang diperlukan
dicari lagi. Dengan pendekatan kedua ini pada dasarnya pertanyaan penelitian
pun bisa bersifat sementara (tentantif) dan terus-menerus bisa dikembangkan
lebih lanjut yang diikuti dengan mencari data sekunder yang diperlukan.
Pendekatan ini “relatif sama” dengan pendekatan penelitian kualitatif grounded,
atau penelitian eksploratif, yang “mencari masalah” di lapangan, bukan dimulai
dengan pertanyaan penelitian sebelum terjun ke lapangan.
5. SUMBER DATA
SEKUNDER
McCaston (2005;
menukil Shell, 1997) menyebutkan sumber data sekunder itu antara lain sebagai
tertera dalam skema berikut.
Secondary Data Sources
Government
Documents
Official
Statistics
Technical
Reports
Scholarly
Journals
Trade Journals
Review Articles
Reference Books
Research
Institutions
Universities
Libraries,
Library Search Engines
Computerized
Databases
The World Wide
Web
6. PENGUMPULAN
DATA
Seperti telah
disebutkan, penelitian Analisis Data Sekunder itu bisa dimulai dari pertanyaan
penelitian, bisa dimulai dari menelaah data serempak dengan terus-menerus
membuat pertanyaan penelitian. Wallace Foundation memberikan tips dalam
mengumpulkan data itu agar tidak terjebak dengan fenomena yang menarik tapi
tidak relevan agar setiap “jeda” mengumpulkan data mempertanyakan hal-hal
berikut.
Ø What are my research goals? What questions am I hoping to answer? (Apa sih
tujuan penelitian saya? Permasalahan penelitian apa yang ingin saya temukan
jawabannya dari lapangan?)
Ø Which research questions have I answered with the data I have collected?
(Permasalahan penelitian yang mana yang sudah terjawab dengan data yang sudah saya
himpun sampai saat ini?)
Ø Which research questions are still outstanding? (Permasalahan penelitian
yang mana yang masih belum terjawab?)
Ø What new questions have been raised by the data I have found? (Permasalahan
penelitian apa lagi yang muncul dari data yang sudah saya himpun sampai saat
ini?)
Ø How will I be using this information once it is collected? Should I look
for data in another form or format for my purposes? (Data yang sudah saya himpun
ini mau saya apakan?)
Ø How accurate is the information I have collected? Can I find an answer to
this question from a more credible source? (Seberapa akurat data yang sudah
saya hjimpun ini? Dapatkah saya menemukan jawaban terhadap permasalahan
penelitian saya dari sumber data yang lebih bisa dipercaya?)
Ø How up-to-date is the information I have collected? Can I find more current
information from another source? (Seberapa “up-to-date” data yang sudah saya
himpun ini? Dapatkah saya peroleh data yang lebih mutaakhir dari sumber data
lain?)
